Pebisnis dan Pemikir !

Pebisnis dan Pemikir !

Thursday, April 3, 2014

Kobaran Janji tak ditepati (Artikel)

-Kobaran  janji tak ditepati-

Sorak sorai gumaman janji tak bertanggung jawab menyeruak kepermukaaan, mewarnai pesta Demokrasi di Indonesia pada tanggal 9 april 2014 kelak. Tinggal menunggu hitungan menit hingga hari untuk pergantian besar, dari tingkat Eksekutif (Presiden beserta Kabinetnya) sampai Legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat).

Beribu janji terus terucap bak api berkobar tak menentu ke 4 penjuru mata angin, ditambah hiasan jalanan dengan tiang-tiang bambunya, yang terus mengkotori jalur hijau Ibukota dan sekitarnya.

Dua periode telah berlalu dipimpin oleh sosok tak tegas dalam pengambil keputusan, macam “kucing dalam karung”, beserta kroninya (Kerabatnya). Lihat partai besar yang berkuasa pada 2 periode dari 2004 – 2014, dengan tagline (Berantas Korupsi). Pada kenyataannya di dalam proses kehidupan, merekalah yang mengerogoti serta menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kekecawaan terus muncul dari setiap raut wajah pribumi yang selalu tertindas dan tak terwakilkan nasibnya. Mereka hanya dituntut serta dipaksa untuk ikut dan mengakui akan adanya pemimpin baru yang “pro” kepada rakyatnya, apakah harus seperti ini terus faktanya…..??? Tentu rakyat bisa melihat dan juga mulai kritis akan apa yang dialaminya pada tahun-tahun sebelumnya.

Di dalam Teori Kepemimpinan  Global terdapat 3 mitos yang berkembang dalam masyarakat yaitu, the birthright, the for all seasons, dan the intensity. The Birthright adalah tipe pemimpin yang dilahirkan sebagaimana halnya dengan yang terjadi pada para pemimpin dengan sistem kerajaan ortodoks ataupun pemerintahan yang absolut. Bapaknya raja maka anaknya akan menjadi raja berikutnya. Mitos ini masih dianut di beberapa negara seperti Korea Utara, Thailand, Inggris dll.

Lalu mitos the for all seasons, yang menyebutkan pemimpin terlahir dari suatu situasi yang akhirnya membawa dia menjadi pemimpin yang paling pantas dalam lingkungannya. Sebagaimana halnya dengan Presiden Soekarno dari Indonesia maupun Napoleon Bonaparte dari Perancis. Meskipun masing-masing pemimpin tentunya tidak selalu tepat dalam setiap situasi yang dihadapi dalam perjalanan kepemimpinannya sehingga mempengaruhi buruknya kebijakan yang diambil dalam menghadapi situasi yang berbeda-beda.

Selanjutnya, mitos yang terakhir adalah The intensity atau biasa juga disebut pemimpin yang tegas dan keras. Pemimpin-pemimpin ini rata-rata banyak berasal dari kalangan militer yang memang terkenal dengan sistemnya yang ketat dan disiplin serta absolut sehingga segala sesuatunya terlaksana secara rigid dan teratur. Kepemimpinan dengan cara ini cenderung berhasil namun hanya dalam lingkungan militer namun apabila dihadapkan dengan lingkungan umum maupun sipil, teori ini dapat menyebabkan keterpaksaan dari para pembantu dibawahnya sehingga justru akan menghasilkan keadaan yang kontra-produktif.

Pemimpin yang seperti apa yang akan dipilih jika masyarakat sudah terlalu gerah dan lelah melihat apa yang telah terjadi dalam setiap kali pemilihan Legislatif bahkas Eksekutif. Mereka yakin, sampai sejauh  ini tak ada yang dapat mewakili hati nurani mereka bahkan kesejahteraan mereka sedikitpun.
Bukan dengan cara membagikan sejadah atau sembako untuk kemakmuran rakyat dalam periode 2014-2019, melainkan fakta dalam proses menjalani tahun tersebut. Tentu mereka akan memilih, tapi siapa yang akan dipilih jika pemimpinnya tak ada sedikitpun yang mencerminkan sikap kebudayaan Timur yang kental akan lemah lembutnya Nusantara?

Masyarakat membutuhkan sosok tegas dan hangat bagi dirinya, bukan sosok yang “gemulai” bak “Putri Salju” yang takut akan panasnya matahari. Mereka bukan butuh janji, karena bagi mereka janji dapat lenyap bagaikan kertas terbakar dalam tumpukan sampah di kobaran api.

Jika memang Negeri ini harus baik dan merangkul rakyatnya, tentu seperti “Harapan adalah impian yang terbangun” (Aristoteles)..

Thursday, March 20, 2014

Amanah yang Bias (Artikel)


Amanah yang Bias

Setahun lamanya sudah amanah masyarakat DKI  Jakarta dipundak perantau asal Surakarta, tentu dengan sebuah harapan indah  pada akhirnya di dalam masalah kemacetan, banjir dan faktor sosial lainya. Bijak dan logis serta sedikit nyeleneh adalah karakteristiknya, ia dikenal dengan nama Jokowi.

Di kala awal pengangkatanya, Jokowi berjanji akan menyelesaikan jabatanya sebagai Gubernur DKI Jakarta sampai tahun 2019. Namun ucapan yang begitu indah nan menuai harapan besar bagi masyarakat Jakarta itu sirna, dikarenakan sang Gubernur siap dipinang menjadi calon Presiden dari PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).

“Faktor yang menjadikan Jokowi sebagai Calon Presiden dari PDI dikarenakan faktor harapan dan keinginan publik Jakarta yang besar,” tegas Megawati Soekarnoputri, ketua Umum PDI-P.  PDI-P juga berharap bahwasanya masyarakat konsisten untuk mendukung Jokowi sampai pemilu Presiden nantinya.

Marunda atau biasa dikenal sebagai “Rumah Si Pitung” menjadi tempat yang dipilih oleh PDI-P untuk mendeklarasikan pencalonan Presiden yang terkesan terburu buru ini. Pasalnya jelas, amanah yang belum kelar dari masyarakat Jakarta, yang sudah “jatuh cinta kepadanya”, terkesan dibiarkan  dan diabaikan demi mandat dari sang ketua partai.

Masalah kemacetan yang belum terealisasi, persoalan banjir yang tak kunjung berhenti serta program Transportasi masal yang kunjung terlihat mandek  menyapa dan membuat pertanyaan besar bagi pemilih jokowi diawal kepemimpinan menjadi Gubernur. Padahal jika dilihat, “blusukan” jokowi tentu mengisnpirasi banyak pihak karena budaya timur yang ditunjukannya begitu kental.

Yang baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul membahagiakannya.” (Aristoteles). Jelas, apakah Jokowi telah membahagiakan seluruh masyarakat Jakarta, atau hanya segelintir orang yang pro-kepadanya. Lihat dampak yang dipicu olehnya, sang  perantau asala Surakarta ini.

Ketika sesuatu yang begitu gemilang dengan cepat maka akan cepat juga biasnya. Masyarakat Indonesia bukan sekedar patung atau boneka yang dapat dipermainkan dan digunakan hak pilihnya, namun mereka adalam pemegang kekuasaan tertinggi dalam “Demokrasi”.


Monday, March 17, 2014

Berita (1)

Gaungan yang Terabaikan

Istana Negara - Jakarta (17/3), Gaungan suara masyarakat adat terus berkumandang di panasnya Ibukota, layaknya kicauan burung yang tak diabaikan sang induk. “Bubarkan KemenHut (Kementerian Kehutanan)”, ujar AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), lewat pidatonya Seketaris Jendral AMAN, Abdon Nababan.

AMAN beserta Koalisi bersatu-padu menyuarakan tuntutannya, laksanakan putusan MK 35 (Mahkamah Konstitusi) dan sahkan “UU PPHMA” (Undang – Undang Pengakuan dan perlindungan hak-hak Masyarakat Adat). Pasalnya Undang undang ini yang sekarang masih menjadi RUU (Rancangan Undang Undang) belum juga terealisasikan oleh DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia).

14 tahun lamanya perjuangan AMAN bersama Kasepuhan Cisitu dan ke Khalifahan kuntu terkait putusan MK 35 ini. Putusan  MK 35 menjelaskan bahwasanya “Hutan Adat bukan Hutan Negara, Tetapi Hutan Hak Masyarakat Adat!”. Namun Kementrian Kehutanan justru mengeluarkan berbagai kebijakan yang bertentangan dengan keputusan MK 35 dan RUU PPHMA, seperti halnya surat edaran Menhut (Menteri Kehutanan) No. 1/2003 dan Permenhut (Peraturan Menteri) P.62, yaitu hutan adat yang dikeluarkan untuk melaksanakan MK 35, justru isinya berbeda dari amar putusan MK.

“Terlampau memberikan kesan yang kurang baik, dikarenakan penggunaan UU pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan untuk mengkriminalisasikan masyarakat adat,” ujar Rukka Sombolinggi, SekJen (Sekretaris Jendral AMAN untuk Advokasi Kebijakan Hukum dan Politik. “Hampir setahun setelah Implementasi MK 35 masyarakat adat masih terus mengalami Intervensi berbasis wilayah, tanah, sumber daya alam khususnya dalam kawasan hutan adat mereka,” Tegas Rukka.

Hal inilah pemicu ke-kesalan AMAN dalam hari bangkitnya yang ke 15 tahun. Sudah 15 tahun lalu seluruh masyarakat adat di pelosok nusantara berkumpul di Hotel Indonesia untuk menyelengarakan Kongres pertama dan mendeklarasikan  kebangkitan masyarakat adat nusantara serta sepakat membentuk AMAN sebagai wadah perjuangan bersama demi mendapatkan keadilan.

Namun hingga saat ini terus masih saja terjadi konflik dan kekerasan pada masyarakat adat. Tindakan represif ini terus terjadi di kawasan–kawasan hutan yang masih jadi penunjukan, dan belum ditata-batas serta belum dikukuhkan lewat penetapan Menteri Kehutanan.

Ironis memang, melihat putusan MK yang sudah muncul dan juga di perkuat oleh sikap tegas Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tanggal 27 Juni 2013, 8 bulan lalu. “Saya secara pribadi berkomitmen untuk memulai sebuah proses pendaftaran dan pengakuan kepemilikan kolektif atas wilayah – wilayah adat di Indonesia,” .

“Dalam pelaksanaannya semua tak sesuai mestinya dan, Presiden SBY masih memiliki waktu 6 bulan lagi untuk memenuhi janji dan komitmennya di depan masyarakat International, terutama bagi Masyarakat adat Indonesia,” ujar AMAN. “Kita sudah mempersiapkan dan manyampaikan draft INPRES (Instruksi Presiden) tentang wilayah adat melalui UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan) dan BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) untuk memudahkan Presiden dalam memenuhi janji dan komitmenya,” tegas AMAN.

Terhitung sudah 47 tahun sejak “UU” Pokok Kehutanan No. 5/1967 dilanjutkan dengan “UU” Kehutanan No.41/1999 muncul, dan Masyarakat adat bukan menjadi merdeka di daerahnya, namun semakin terjajah, terampas haknya atas wilayah adatnya. Perlahan tapi pasti mulai terkuras hutannya di wilayah adat serta eksploitasi secara massif melalui izin-izin yang dikeluarkan Depertemen Kehutanan serta Kementerian Kehutanan, yang jelas pro-kapitalis.


“”47 tahun sudah perampasan wilayah adat di seluruh pelosok nusantara, dan saatnya katakan “TIDAK”, untuk Penjajahan, Perampasan Hak, Eksploitasi Hutan Adat, untuk Kemenhut yang masih terus Mengkriminalisasikan Masyarakat Adat atas alasan apapun!,”” tegas AMAN…. (GGN)

Thursday, March 13, 2014

Kisah Kasih Seorang Ibu (Feature)


Kisah Kasih Seorang Ibu
Ibu,
Engkau adalah sosok panutan bagiku dalam mengarungi kehidupan. Belaian halus kedua tanganmu selalu menempel dalam kulit ini dan tak pernah lekang termakan waktu. Engkau jadikan diriku untuk dapat menyusuri makna sebuah kehidupan dengan segala upayamu. Nasihat serta amanahmu untuk membimbingku akan selalu kuingat untuk jadi makhluk berguna bagi sesama. Dikala ku harus ada didalam tubuhmu selama 9 bulan, kau pun terdiam demi menjagaku dari keburukan yang datang.

Walaupun sakit melanda, tidur pun tak bisa namun tak pernah kau rasa. Saat diriku terlelap tidur kau hanya bisa tersenyum dan meratapiku demi masa depan yang gemilang. Ibu, engkau adalah mutiara berharga bagiku, oooh Ibuu....

Ibuku bernama Dede Cariningsih Sofia. Terlahir di dalam pelosok dataran Sunda menjadi pelengkap identitasnya. Anak ke tiga dari sembilan bersaudara ini, selalu menjadi motivasi terbaik bagi saudara saudaranya. Dede panggilannya, merupakan kaka perempuan yang menjadi panutan bagi adik perempuan lainnya. Masak, membersihkan rumah dan segala hal yang bersinggungan dengan perempuan merupakan hal terbaik yang dapat ditularkannya kepada adik adiknya.

Ibu pun adalah juru masak terbaik dalam lingkup keluarga kecilku. Asupan makanan anak anaknya terkordinir dengan baik. Masakan Sunda, Betawi, Padang serta lainnya dapat ia suguhkan demi anak dan suami tercintanya. Ibu merupakan imam kedua dalam keluargaku. Tak pernah terdengar sedikitpun keluhan akan repotnya mendidik ke empat anaknya.

Di saat ku terjatuh beliau yang mengobatinya. Disaat ku terluka beliau yang membersihkannya. Dan di saat ku kehilangan arah beliau pula yang meluruskannya. Sejak dari TK hingga menjadi Mahasiswa yang tak pernah kulupakan adalah makna dari sebuah kesederhanaan. Nilai serta Norma dalam bersosialisasi tak luput ia tanamkan bagi diriku dan ketiga saudaraku.

Ibu adalah seorang perawat. Giat bekerja hingga banting tulang bersama Ayah merupakan kegiatannya demi menghasilkan pundi pundi Rupiah. Berangkat pagi sedangkan pulang larut malam tak pernah jadi kendala untuk memberikan belaian kepada anak anaknya. Tugasnya sebagai ibu rumah tangga tak pernah terlewatkan sedikitpun. Dia benar benar ibu Sang mutiara keluarga.

Saat ini kau telah pensiun. Kesedihan mu tergambar dalam raut wajahmu yang indah. Keputusan ini tentu bukan karena tanpa alasan, melainkan akibat empat anak yang harus kau didik agar menjadi mahkluk berguna bagi dunia dan akhirat. Ibu, kau sangat mementingkan diriku dan saudaraku lebih dari pada apapun. Bukan kekayaan yang kau cari melainkan hanya keluarga yang sederhana dan indah.

Sekarang aku jauh dari belaianmu  Ibu. Jarak inilah yang membuat dirimu  tidak lagi  menjadi tempat pelabuhan cerita panjang ku. Sekarang kau tinggal bersama Kakaku. Di saat ku memiliki waktu senggang ku hanya bisa mendatangimu untuk memperbaiki hubungan kekeluargaanku. Kesedihanku muncul dikala badanmu selalu menjadi dataran kedua tangaku yang kasar akibat keluhan pegal dan sakit pada persendianmu.

Umurmu sudah tidak muda lagi. Kerutan dari muka putihmu sekarang sudah mulai bermunculan. Tergambar dalam benakku wajah yang dahulu begitu ceria, Namun sekarang kau begitu berbeda.  Ketika lansia kau harus tetap bekerja menjadi ibu dari keponakanku di sana.

Ibu, engkaulah yang terbaik pemberian Sang Penguasa untuk diriku. Tak bisa ku balas jasamu hanya dengan kedua tanganku. Engkau sudah lelah dan terlampau bekerja berat demi diriku serta saudaraku, saatnya sekarang kau beristirahat. Bukan maksudku untuk membiarkan keponakanku untuk tidak terdidik sepertiku, namun ku hanya memikirkan kesehatanmu.

Di saat usiaku menginjak 23 tahun, Sedih melihat bahan bahan kimia terlalu sering masuk ketubuhmu akan penantian kesehatan, oooh Ibu.....
Sedih bercampur duka dibenakku, dikala jasamu tak pernah terbalaskan olehku dan ketiga saudaraku. Di dalam sembahyang dan ibadahku hanya selalu kukirimkan untuk kesehatanmu ibu.  Doaku untukmu merupakan hal kecil yang dapat ku balas atas jasamu yang besar. Ku gumamkan  sebuah harapan serta kesehatan di usiamu yang lansia. Agar kelak  kau dapat membimbingku hingga ku menjadi suami dari  istriku.

Manusia Biasa

Sampah Itu Penyakit! (Artikel)

Sampah itu Penyakit!

Sebagai mahkluk sosial yang memiliki aktivitas tak kunjung menentu tentu manusia ingin mendapatkan kualitas hidup yang baik, sehat bahkan terhindar dari bencana Alam. Namun pada kenyataan, layaknya angin yang bergulir serta berhembus ke seluruh (Empat) penjuru mata angin, kehidupan itu jauh dari mungkin!.

Lihat Alam kita!, apakah layak dan bergembira anda melihatnya?. Sampah yang menumpuk dengan sembarang tanpa tau siapa penanggung jawabnya, serta padatnya kendaraan yang perlahan lahan akan memberikan suapan buruk CO2 (karbon dioksida) kepada pemiliknya, Ditambah penebangan pohon secara keji disetiap hutan hijau yang berada di Indonesia, serta alih fungsi ruang yang tak kunjung jelas posisisnya.

Padahal kita ketahui, bahwasanya Indonesia kaya akan SDA (Sumber Daya Alam) dalam segala segi dan pemanfaatanya, serta penghasil Oksigen yang cukup baik dikarenakan banyaknya lahan hijau di Bumi Nusantara ini. Namun kenapa masih banyak kaum-kaum tak bermoral muncul dan datang tak diundang tanpa meninggalkan kesan baik bagi lingkungan kita.

Lihat sekarang Ibu Pertiwi menangis, yaitu Jakarta. Cukup puaskah anda melihat perubahan iklim yang tiba tiba terjadi secara mengejutkan tanpa tahu, apa yang akan terjadi esok hari?.

Perubahan iklim yang spontan ini tentu dipicu oleh keadaan lingkungan yang tak stabil, layaknya Pesawat kehilangan salah satu bagian sayapnya. Terkadang ketika panasnya matahari mulai meraba kulit, disaat itu pula rintik hujan gemulai turun tanpa beban.

Menurut Thomas Djamaluddin dari Riset Astronomi Astrofisika LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), “kenapa pemanasan yang terjadi pada wilayah perkotaan cenderung lebih panas dibandingkan darah di sekitarnya, atau biasa disebut sebagai fenomena panas perkotaan?“. “Hal ini dikarenakan adanya perubahan fungsi tata guna lahan, sehingga berdampak pada panas yang diserap oleh permukaan bumi dipancarkan lagi menjadi inframerah ke udara.”

Namun berbeda ujarnya dari Haradi, Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), “bahwa perubahan mendadak dari hujan ke panas secara tiba-tiba adalah wajar dan masih dalam batas normal.” Jikalau normal mengapa merasa was-was ketika pemanasan Global menjadi masalah……

Saat ini produksi sampah plastik di Indonesia ada pada peringkat kedua dalam hal penghasil sampah domestik, yaitu sebesar 5,4 juta ton per tahun. Menurut Ketua Umum Indonesia Solid Waste Association (InSWA), Sri Bebassari “data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia”.

Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, “tumpukan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik. Dari seluruh sampah yang ada, 57 persen ditemukan di pantai berupa sampah plastik dan sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi samudera, bahkan kedalaman sampah  plastik di Samudera Pasifik sudah mencapai hampir 100 meter.”

jika saja sampah-sampah itu diolah menjadi barang yang berguna dalam kelangsungan hidup berumah tangga dan mudah dalam hal penerapanya, pasti setiap insan yang ada di Ibukota akan terpanggil sanubarinya untuk bersama sama menjaga dan memelihara alam serta lingkungan mereka. Bukan tidak mungkin anda dapat melakukannya, mulai dari membuang sampah pada tempatnya dan meminimalisir penggunaan pelastik serta membuat mini hutan kecil dirumah anda.

Dari kebiasaan yang perlahan-lahan kecil itulah anda akan merubah dunia yang begitu besar untuk Bumi yang sehat dan baik bagi anak cucu anda kedepanya ataupun orang lain. Bayangkan, jika anak serta cucu anda menikmati indahnya iklim dan bersihnya lingkungan di Indonesia khususnya Jakarta, anda pasti akan puas dan berhasil melakukan misi dalam penerapan Bumi yang sehat!, “Yang baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul membahagiakannya.” (Aristoteles).

Menurut Sri, langkah positif untuk pengurangan sampah melalui kampanye 3R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang serta menemukan formula yang tepat untuk mempercepat proses penguraian plastik agar bisa kembali ke alam,". Sosok yang berpengaruh dijakarta yaitu Bapak Gubernur Jokowi serta wakilnya Ahok juga seniman kawakan Slank pun juga bersatu untuk bersama bergumam dalam “Stop pembuangan sampah ke sungai serta akan mengharuskan Pasar, baik Modern atau Tradisional untuk menghentikan penggunaan pelastik.”

Pencegahan sudah dilakukan, sekarang tinggal bagaimana anda menentukan sikap bijak dalam kelangsungan hidup anda?. Sang pencipta pun sudah memberikan segalanya bagi umatnya, namun apa tindakan terimakasih kita (Hambanya) kepadanya?, “Tuhan sering mengunjungi kita, tetapi kebanyakan kita sedang tidak ada di rumah. (Joseph Roux)”.

Semua balik kepada manusia yang dapat menentukan pilihan dari hasil pola pikirnya masing masing. Tentu harapan semua orang, hidup itu indah pada waktunya dan sehat sampai akhir hayat!

Manusia Biasa