Kisah Kasih Seorang Ibu
Ibu,
Engkau adalah sosok panutan bagiku dalam mengarungi
kehidupan. Belaian halus kedua tanganmu selalu menempel dalam kulit ini dan tak
pernah lekang termakan waktu. Engkau jadikan diriku untuk dapat menyusuri makna
sebuah kehidupan dengan segala upayamu. Nasihat serta amanahmu untuk
membimbingku akan selalu kuingat untuk jadi makhluk berguna bagi sesama. Dikala
ku harus ada didalam tubuhmu selama 9 bulan, kau pun terdiam demi menjagaku
dari keburukan yang datang.
Walaupun sakit melanda, tidur pun tak bisa namun tak
pernah kau rasa. Saat diriku terlelap tidur kau hanya bisa tersenyum dan
meratapiku demi masa depan yang gemilang. Ibu, engkau adalah mutiara berharga bagiku, oooh Ibuu....
Ibuku bernama Dede Cariningsih Sofia. Terlahir di
dalam pelosok dataran Sunda menjadi
pelengkap identitasnya. Anak ke tiga
dari sembilan bersaudara ini, selalu menjadi motivasi terbaik bagi saudara saudaranya. Dede panggilannya, merupakan
kaka perempuan yang menjadi panutan bagi adik perempuan lainnya. Masak,
membersihkan rumah dan segala hal yang bersinggungan dengan perempuan merupakan
hal terbaik yang dapat ditularkannya kepada adik adiknya.
Ibu pun adalah juru masak terbaik dalam lingkup
keluarga kecilku. Asupan makanan anak anaknya terkordinir dengan baik. Masakan Sunda, Betawi, Padang serta lainnya dapat ia suguhkan demi anak dan
suami tercintanya. Ibu merupakan imam
kedua dalam keluargaku. Tak pernah terdengar sedikitpun keluhan akan repotnya
mendidik ke empat anaknya.
Di saat ku terjatuh beliau yang mengobatinya. Disaat
ku terluka beliau yang membersihkannya. Dan di saat ku kehilangan arah beliau
pula yang meluruskannya. Sejak dari TK hingga
menjadi Mahasiswa yang tak pernah
kulupakan adalah makna dari sebuah kesederhanaan. Nilai serta Norma dalam bersosialisasi tak luput ia tanamkan
bagi diriku dan ketiga saudaraku.
Ibu adalah seorang perawat. Giat bekerja hingga
banting tulang bersama Ayah merupakan kegiatannya demi menghasilkan pundi pundi Rupiah. Berangkat pagi
sedangkan pulang larut malam tak pernah jadi kendala untuk memberikan belaian
kepada anak anaknya. Tugasnya sebagai ibu rumah tangga tak pernah terlewatkan
sedikitpun. Dia benar benar ibu Sang
mutiara keluarga.
Saat ini kau telah pensiun. Kesedihan mu tergambar
dalam raut wajahmu yang indah. Keputusan ini tentu bukan karena tanpa alasan,
melainkan akibat empat anak yang harus kau didik agar menjadi mahkluk berguna
bagi dunia dan akhirat. Ibu, kau sangat mementingkan diriku dan saudaraku lebih
dari pada apapun. Bukan kekayaan yang kau cari melainkan hanya keluarga yang
sederhana dan indah.
Sekarang aku jauh dari belaianmu Ibu. Jarak inilah yang membuat dirimu tidak lagi
menjadi tempat pelabuhan cerita panjang ku. Sekarang kau tinggal bersama
Kakaku. Di saat ku memiliki waktu senggang ku hanya bisa mendatangimu untuk
memperbaiki hubungan kekeluargaanku. Kesedihanku muncul dikala badanmu selalu
menjadi dataran kedua tangaku yang kasar akibat keluhan pegal dan sakit pada persendianmu.
Umurmu sudah tidak muda lagi. Kerutan dari muka
putihmu sekarang sudah mulai bermunculan. Tergambar dalam benakku wajah yang
dahulu begitu ceria, Namun sekarang kau begitu berbeda. Ketika lansia
kau harus tetap bekerja menjadi ibu dari keponakanku di sana.
Ibu, engkaulah yang terbaik pemberian Sang Penguasa untuk diriku. Tak bisa ku
balas jasamu hanya dengan kedua tanganku. Engkau sudah lelah dan terlampau
bekerja berat demi diriku serta saudaraku, saatnya sekarang kau beristirahat.
Bukan maksudku untuk membiarkan keponakanku untuk tidak terdidik sepertiku,
namun ku hanya memikirkan kesehatanmu.
Di saat usiaku menginjak 23 tahun, Sedih melihat
bahan bahan kimia terlalu sering
masuk ketubuhmu akan penantian kesehatan, oooh Ibu.....
Sedih bercampur duka
dibenakku, dikala jasamu tak pernah terbalaskan olehku dan ketiga
saudaraku. Di dalam sembahyang dan ibadahku hanya selalu kukirimkan untuk
kesehatanmu ibu. Doaku untukmu merupakan hal kecil yang
dapat ku balas atas jasamu yang besar. Ku gumamkan
sebuah harapan serta kesehatan di
usiamu yang lansia. Agar kelak kau dapat membimbingku hingga ku menjadi
suami dari istriku.
Manusia Biasa
No comments:
Post a Comment