Pebisnis dan Pemikir !

Pebisnis dan Pemikir !

Thursday, March 13, 2014

Kisah Kasih Seorang Ibu (Feature)


Kisah Kasih Seorang Ibu
Ibu,
Engkau adalah sosok panutan bagiku dalam mengarungi kehidupan. Belaian halus kedua tanganmu selalu menempel dalam kulit ini dan tak pernah lekang termakan waktu. Engkau jadikan diriku untuk dapat menyusuri makna sebuah kehidupan dengan segala upayamu. Nasihat serta amanahmu untuk membimbingku akan selalu kuingat untuk jadi makhluk berguna bagi sesama. Dikala ku harus ada didalam tubuhmu selama 9 bulan, kau pun terdiam demi menjagaku dari keburukan yang datang.

Walaupun sakit melanda, tidur pun tak bisa namun tak pernah kau rasa. Saat diriku terlelap tidur kau hanya bisa tersenyum dan meratapiku demi masa depan yang gemilang. Ibu, engkau adalah mutiara berharga bagiku, oooh Ibuu....

Ibuku bernama Dede Cariningsih Sofia. Terlahir di dalam pelosok dataran Sunda menjadi pelengkap identitasnya. Anak ke tiga dari sembilan bersaudara ini, selalu menjadi motivasi terbaik bagi saudara saudaranya. Dede panggilannya, merupakan kaka perempuan yang menjadi panutan bagi adik perempuan lainnya. Masak, membersihkan rumah dan segala hal yang bersinggungan dengan perempuan merupakan hal terbaik yang dapat ditularkannya kepada adik adiknya.

Ibu pun adalah juru masak terbaik dalam lingkup keluarga kecilku. Asupan makanan anak anaknya terkordinir dengan baik. Masakan Sunda, Betawi, Padang serta lainnya dapat ia suguhkan demi anak dan suami tercintanya. Ibu merupakan imam kedua dalam keluargaku. Tak pernah terdengar sedikitpun keluhan akan repotnya mendidik ke empat anaknya.

Di saat ku terjatuh beliau yang mengobatinya. Disaat ku terluka beliau yang membersihkannya. Dan di saat ku kehilangan arah beliau pula yang meluruskannya. Sejak dari TK hingga menjadi Mahasiswa yang tak pernah kulupakan adalah makna dari sebuah kesederhanaan. Nilai serta Norma dalam bersosialisasi tak luput ia tanamkan bagi diriku dan ketiga saudaraku.

Ibu adalah seorang perawat. Giat bekerja hingga banting tulang bersama Ayah merupakan kegiatannya demi menghasilkan pundi pundi Rupiah. Berangkat pagi sedangkan pulang larut malam tak pernah jadi kendala untuk memberikan belaian kepada anak anaknya. Tugasnya sebagai ibu rumah tangga tak pernah terlewatkan sedikitpun. Dia benar benar ibu Sang mutiara keluarga.

Saat ini kau telah pensiun. Kesedihan mu tergambar dalam raut wajahmu yang indah. Keputusan ini tentu bukan karena tanpa alasan, melainkan akibat empat anak yang harus kau didik agar menjadi mahkluk berguna bagi dunia dan akhirat. Ibu, kau sangat mementingkan diriku dan saudaraku lebih dari pada apapun. Bukan kekayaan yang kau cari melainkan hanya keluarga yang sederhana dan indah.

Sekarang aku jauh dari belaianmu  Ibu. Jarak inilah yang membuat dirimu  tidak lagi  menjadi tempat pelabuhan cerita panjang ku. Sekarang kau tinggal bersama Kakaku. Di saat ku memiliki waktu senggang ku hanya bisa mendatangimu untuk memperbaiki hubungan kekeluargaanku. Kesedihanku muncul dikala badanmu selalu menjadi dataran kedua tangaku yang kasar akibat keluhan pegal dan sakit pada persendianmu.

Umurmu sudah tidak muda lagi. Kerutan dari muka putihmu sekarang sudah mulai bermunculan. Tergambar dalam benakku wajah yang dahulu begitu ceria, Namun sekarang kau begitu berbeda.  Ketika lansia kau harus tetap bekerja menjadi ibu dari keponakanku di sana.

Ibu, engkaulah yang terbaik pemberian Sang Penguasa untuk diriku. Tak bisa ku balas jasamu hanya dengan kedua tanganku. Engkau sudah lelah dan terlampau bekerja berat demi diriku serta saudaraku, saatnya sekarang kau beristirahat. Bukan maksudku untuk membiarkan keponakanku untuk tidak terdidik sepertiku, namun ku hanya memikirkan kesehatanmu.

Di saat usiaku menginjak 23 tahun, Sedih melihat bahan bahan kimia terlalu sering masuk ketubuhmu akan penantian kesehatan, oooh Ibu.....
Sedih bercampur duka dibenakku, dikala jasamu tak pernah terbalaskan olehku dan ketiga saudaraku. Di dalam sembahyang dan ibadahku hanya selalu kukirimkan untuk kesehatanmu ibu.  Doaku untukmu merupakan hal kecil yang dapat ku balas atas jasamu yang besar. Ku gumamkan  sebuah harapan serta kesehatan di usiamu yang lansia. Agar kelak  kau dapat membimbingku hingga ku menjadi suami dari  istriku.

Manusia Biasa

No comments:

Post a Comment