Sampah itu Penyakit!
Sebagai mahkluk sosial
yang memiliki aktivitas tak kunjung menentu tentu manusia ingin mendapatkan
kualitas hidup yang baik, sehat bahkan terhindar dari bencana Alam. Namun pada
kenyataan, layaknya angin yang bergulir serta berhembus ke seluruh (Empat)
penjuru mata angin, kehidupan itu jauh dari mungkin!.
Lihat Alam kita!,
apakah layak dan bergembira anda melihatnya?. Sampah yang menumpuk dengan
sembarang tanpa tau siapa penanggung jawabnya, serta padatnya kendaraan yang
perlahan lahan akan memberikan suapan buruk CO2 (karbon dioksida) kepada
pemiliknya, Ditambah penebangan pohon secara keji disetiap hutan hijau yang
berada di Indonesia, serta alih fungsi ruang yang tak kunjung jelas posisisnya.
Padahal kita ketahui,
bahwasanya Indonesia kaya akan SDA (Sumber Daya Alam) dalam segala segi dan
pemanfaatanya, serta penghasil Oksigen yang cukup baik dikarenakan banyaknya
lahan hijau di Bumi Nusantara ini. Namun kenapa masih banyak kaum-kaum tak
bermoral muncul dan datang tak diundang tanpa meninggalkan kesan baik bagi lingkungan
kita.
Lihat sekarang Ibu
Pertiwi menangis, yaitu Jakarta. Cukup puaskah anda melihat perubahan iklim yang
tiba tiba terjadi secara mengejutkan tanpa tahu, apa yang akan terjadi esok
hari?.
Perubahan iklim yang spontan ini tentu dipicu oleh keadaan
lingkungan yang tak stabil, layaknya Pesawat kehilangan salah satu bagian
sayapnya. Terkadang ketika panasnya matahari mulai meraba kulit, disaat itu
pula rintik hujan gemulai turun tanpa beban.
Menurut Thomas Djamaluddin dari Riset Astronomi Astrofisika
LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), “kenapa
pemanasan yang terjadi pada wilayah perkotaan cenderung lebih panas dibandingkan
darah di sekitarnya, atau biasa disebut sebagai fenomena panas perkotaan?“. “Hal ini dikarenakan adanya
perubahan fungsi tata guna lahan, sehingga berdampak pada panas yang diserap
oleh permukaan bumi dipancarkan lagi menjadi inframerah ke udara.”
Namun berbeda ujarnya dari Haradi, Kepala Bidang Peringatan
Dini Cuaca Ekstrem Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), “bahwa
perubahan mendadak dari hujan ke panas secara tiba-tiba adalah wajar dan masih
dalam batas normal.” Jikalau normal mengapa merasa was-was ketika pemanasan
Global menjadi masalah……
Saat ini produksi sampah plastik di Indonesia ada pada
peringkat kedua dalam hal penghasil sampah domestik, yaitu sebesar 5,4 juta ton
per tahun. Menurut Ketua Umum Indonesia Solid Waste Association (InSWA), Sri
Bebassari “data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik
tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia”.
Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, “tumpukan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik. Dari seluruh sampah yang ada, 57 persen ditemukan di pantai berupa sampah plastik dan sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi samudera, bahkan kedalaman sampah plastik di Samudera Pasifik sudah mencapai hampir 100 meter.”
jika saja sampah-sampah itu diolah menjadi barang yang berguna dalam kelangsungan hidup berumah tangga dan mudah dalam hal penerapanya, pasti setiap insan yang ada di Ibukota akan terpanggil sanubarinya untuk bersama sama menjaga dan memelihara alam serta lingkungan mereka. Bukan tidak mungkin anda dapat melakukannya, mulai dari membuang sampah pada tempatnya dan meminimalisir penggunaan pelastik serta membuat mini hutan kecil dirumah anda.
Dari kebiasaan yang
perlahan-lahan kecil itulah anda akan merubah dunia yang begitu besar untuk
Bumi yang sehat dan baik bagi anak cucu anda kedepanya ataupun orang lain.
Bayangkan, jika anak serta cucu anda menikmati indahnya iklim dan bersihnya
lingkungan di Indonesia khususnya Jakarta, anda pasti akan puas dan berhasil
melakukan misi dalam penerapan Bumi yang sehat!, “Yang baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul
membahagiakannya.” (Aristoteles).
Menurut Sri, langkah positif untuk pengurangan sampah melalui
kampanye 3R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan
kembali), dan Recycle (mendaur
ulang serta menemukan formula yang tepat untuk mempercepat proses penguraian
plastik agar bisa kembali ke alam,". Sosok yang berpengaruh dijakarta
yaitu Bapak Gubernur Jokowi serta wakilnya Ahok juga seniman kawakan Slank pun
juga bersatu untuk bersama bergumam dalam “Stop pembuangan sampah ke sungai
serta akan mengharuskan Pasar, baik Modern atau Tradisional untuk menghentikan
penggunaan pelastik.”
Pencegahan sudah dilakukan,
sekarang tinggal bagaimana anda menentukan sikap bijak dalam kelangsungan hidup
anda?. Sang pencipta pun sudah memberikan segalanya bagi umatnya, namun apa
tindakan terimakasih kita (Hambanya) kepadanya?, “Tuhan sering mengunjungi kita, tetapi kebanyakan kita sedang
tidak ada di rumah. (Joseph Roux)”.
Semua balik kepada
manusia yang dapat menentukan pilihan dari hasil pola pikirnya masing masing.
Tentu harapan semua orang, hidup itu indah pada waktunya dan sehat sampai akhir
hayat!
Manusia Biasa
No comments:
Post a Comment