-Kobaran
janji tak ditepati-
Sorak
sorai gumaman janji tak bertanggung jawab menyeruak kepermukaaan, mewarnai pesta
Demokrasi di Indonesia pada tanggal 9 april 2014 kelak. Tinggal menunggu hitungan
menit hingga hari untuk pergantian besar, dari tingkat Eksekutif (Presiden
beserta Kabinetnya) sampai Legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat).
Beribu
janji terus terucap bak api berkobar tak menentu ke 4 penjuru mata angin, ditambah
hiasan jalanan dengan tiang-tiang bambunya, yang terus mengkotori jalur hijau
Ibukota dan sekitarnya.
Dua
periode telah berlalu dipimpin oleh sosok tak tegas dalam pengambil keputusan,
macam “kucing dalam karung”, beserta kroninya (Kerabatnya). Lihat partai besar
yang berkuasa pada 2 periode dari 2004 – 2014, dengan tagline (Berantas
Korupsi). Pada kenyataannya di dalam proses kehidupan, merekalah yang
mengerogoti serta menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kekecawaan
terus muncul dari setiap raut wajah pribumi yang selalu tertindas dan tak
terwakilkan nasibnya. Mereka hanya dituntut serta dipaksa untuk ikut dan
mengakui akan adanya pemimpin baru yang “pro” kepada rakyatnya, apakah harus
seperti ini terus faktanya…..??? Tentu rakyat bisa melihat dan juga mulai kritis
akan apa yang dialaminya pada tahun-tahun sebelumnya.
Di dalam
Teori
Kepemimpinan Global terdapat 3 mitos yang berkembang dalam
masyarakat yaitu, the
birthright, the
for all seasons, dan the
intensity. The
Birthright adalah
tipe pemimpin yang dilahirkan sebagaimana halnya dengan yang terjadi pada para
pemimpin dengan sistem kerajaan ortodoks ataupun pemerintahan yang absolut.
Bapaknya raja maka anaknya akan menjadi raja berikutnya. Mitos ini masih dianut
di beberapa negara seperti Korea Utara, Thailand, Inggris dll.
Lalu mitos the for
all seasons, yang
menyebutkan pemimpin terlahir dari suatu situasi yang akhirnya membawa dia
menjadi pemimpin yang paling pantas dalam lingkungannya. Sebagaimana halnya
dengan Presiden Soekarno dari Indonesia maupun Napoleon Bonaparte dari
Perancis. Meskipun masing-masing pemimpin tentunya tidak selalu tepat dalam
setiap situasi yang dihadapi dalam perjalanan kepemimpinannya sehingga
mempengaruhi buruknya kebijakan yang diambil dalam menghadapi situasi yang
berbeda-beda.
Selanjutnya, mitos yang terakhir adalah The intensity atau biasa juga disebut pemimpin yang tegas dan keras.
Pemimpin-pemimpin ini rata-rata banyak berasal dari kalangan militer yang
memang terkenal dengan sistemnya yang ketat dan disiplin serta absolut sehingga
segala sesuatunya terlaksana secara rigid dan teratur. Kepemimpinan dengan cara ini cenderung
berhasil namun hanya dalam lingkungan militer namun apabila dihadapkan dengan
lingkungan umum maupun sipil, teori ini dapat menyebabkan keterpaksaan dari
para pembantu dibawahnya sehingga justru akan menghasilkan keadaan yang
kontra-produktif.
Pemimpin
yang seperti apa yang akan dipilih jika masyarakat sudah terlalu gerah dan
lelah melihat apa yang telah terjadi dalam setiap kali pemilihan Legislatif bahkas
Eksekutif. Mereka yakin, sampai sejauh
ini tak ada yang dapat mewakili hati nurani mereka bahkan kesejahteraan
mereka sedikitpun.
Bukan
dengan cara membagikan sejadah atau sembako untuk kemakmuran rakyat dalam
periode 2014-2019, melainkan fakta dalam proses menjalani tahun tersebut. Tentu
mereka akan memilih, tapi siapa yang akan dipilih jika pemimpinnya tak ada
sedikitpun yang mencerminkan sikap kebudayaan Timur yang kental akan lemah
lembutnya Nusantara?
Masyarakat
membutuhkan sosok tegas dan hangat bagi dirinya, bukan sosok yang “gemulai” bak
“Putri Salju” yang takut akan panasnya matahari. Mereka bukan butuh janji,
karena bagi mereka janji dapat lenyap bagaikan kertas terbakar dalam tumpukan
sampah di kobaran api.
No comments:
Post a Comment