Amanah yang Bias
Setahun lamanya sudah amanah masyarakat DKI Jakarta dipundak perantau asal Surakarta,
tentu dengan sebuah harapan indah pada
akhirnya di dalam masalah kemacetan, banjir dan faktor sosial lainya. Bijak dan
logis serta sedikit nyeleneh adalah karakteristiknya, ia dikenal dengan nama
Jokowi.
Di kala awal pengangkatanya, Jokowi berjanji akan
menyelesaikan jabatanya sebagai Gubernur DKI Jakarta sampai tahun 2019. Namun
ucapan yang begitu indah nan menuai harapan besar bagi masyarakat Jakarta itu
sirna, dikarenakan sang Gubernur siap dipinang menjadi calon Presiden dari PDI-P
(Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).
“Faktor yang menjadikan Jokowi sebagai Calon
Presiden dari PDI dikarenakan faktor harapan dan keinginan publik Jakarta yang
besar,” tegas Megawati Soekarnoputri, ketua Umum PDI-P. PDI-P juga berharap bahwasanya masyarakat
konsisten untuk mendukung Jokowi sampai pemilu Presiden nantinya.
Marunda atau biasa dikenal sebagai “Rumah Si Pitung”
menjadi tempat yang dipilih oleh PDI-P untuk mendeklarasikan pencalonan
Presiden yang terkesan terburu buru ini. Pasalnya jelas, amanah yang belum
kelar dari masyarakat Jakarta, yang sudah “jatuh cinta kepadanya”, terkesan
dibiarkan dan diabaikan demi mandat dari
sang ketua partai.
Masalah kemacetan yang belum terealisasi, persoalan
banjir yang tak kunjung berhenti serta program Transportasi masal yang kunjung
terlihat mandek menyapa dan membuat
pertanyaan besar bagi pemilih jokowi diawal kepemimpinan menjadi Gubernur.
Padahal jika dilihat, “blusukan” jokowi tentu mengisnpirasi banyak pihak karena
budaya timur yang ditunjukannya begitu kental.
“Yang
baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul membahagiakannya.” (Aristoteles).
Jelas, apakah Jokowi telah membahagiakan seluruh masyarakat Jakarta, atau hanya
segelintir orang yang pro-kepadanya. Lihat dampak yang dipicu olehnya,
sang perantau asala Surakarta ini.
Ketika sesuatu yang begitu gemilang dengan cepat
maka akan cepat juga biasnya. Masyarakat Indonesia bukan sekedar patung atau
boneka yang dapat dipermainkan dan digunakan hak pilihnya, namun mereka adalam
pemegang kekuasaan tertinggi dalam “Demokrasi”.
No comments:
Post a Comment