Pebisnis dan Pemikir !

Pebisnis dan Pemikir !

Thursday, March 20, 2014

Amanah yang Bias (Artikel)


Amanah yang Bias

Setahun lamanya sudah amanah masyarakat DKI  Jakarta dipundak perantau asal Surakarta, tentu dengan sebuah harapan indah  pada akhirnya di dalam masalah kemacetan, banjir dan faktor sosial lainya. Bijak dan logis serta sedikit nyeleneh adalah karakteristiknya, ia dikenal dengan nama Jokowi.

Di kala awal pengangkatanya, Jokowi berjanji akan menyelesaikan jabatanya sebagai Gubernur DKI Jakarta sampai tahun 2019. Namun ucapan yang begitu indah nan menuai harapan besar bagi masyarakat Jakarta itu sirna, dikarenakan sang Gubernur siap dipinang menjadi calon Presiden dari PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).

“Faktor yang menjadikan Jokowi sebagai Calon Presiden dari PDI dikarenakan faktor harapan dan keinginan publik Jakarta yang besar,” tegas Megawati Soekarnoputri, ketua Umum PDI-P.  PDI-P juga berharap bahwasanya masyarakat konsisten untuk mendukung Jokowi sampai pemilu Presiden nantinya.

Marunda atau biasa dikenal sebagai “Rumah Si Pitung” menjadi tempat yang dipilih oleh PDI-P untuk mendeklarasikan pencalonan Presiden yang terkesan terburu buru ini. Pasalnya jelas, amanah yang belum kelar dari masyarakat Jakarta, yang sudah “jatuh cinta kepadanya”, terkesan dibiarkan  dan diabaikan demi mandat dari sang ketua partai.

Masalah kemacetan yang belum terealisasi, persoalan banjir yang tak kunjung berhenti serta program Transportasi masal yang kunjung terlihat mandek  menyapa dan membuat pertanyaan besar bagi pemilih jokowi diawal kepemimpinan menjadi Gubernur. Padahal jika dilihat, “blusukan” jokowi tentu mengisnpirasi banyak pihak karena budaya timur yang ditunjukannya begitu kental.

Yang baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul membahagiakannya.” (Aristoteles). Jelas, apakah Jokowi telah membahagiakan seluruh masyarakat Jakarta, atau hanya segelintir orang yang pro-kepadanya. Lihat dampak yang dipicu olehnya, sang  perantau asala Surakarta ini.

Ketika sesuatu yang begitu gemilang dengan cepat maka akan cepat juga biasnya. Masyarakat Indonesia bukan sekedar patung atau boneka yang dapat dipermainkan dan digunakan hak pilihnya, namun mereka adalam pemegang kekuasaan tertinggi dalam “Demokrasi”.


No comments:

Post a Comment